Bali Setelah Perda Lansia Disahkan, Ini Ancaman bagi Rumah Sakit yang tidak melaksanakan Geriatri

pasien geriatri

Pelatihan Geriatri – Ranperda Lansia Selasa hari ini akan disahkan dalam sidang paripurna. Dan kemarin dalam rapat paripurna internal, sudah disetujui. Yang menarik, jika dalam pelayanan rumah sakit tidak menerapkan geriatric (standar pelayanan kesehatan untuk lansia) dan ramah lansia, rumah sakit tersebut akan kena sanksi. Ketua Pansus Ranperda Tentang Kesejahteraan Lansia DPRD Bali Nyoman Parta mengatakan bahwa ada sanksi dalam perda ini nantinya. Yaitu terkait pelayanan bagi lansia, mesti menerapkan geriatri dan ramah lansia. Jika tidak kena saksi rumah sakit tersebut. “Wajib ramah lansia dan menerapkan geriatri, jika tidak Rumah Sakit suwasta atau pemerintah, kena sanksi,” kata politisi PDIP asal Guwang, Gianyar ini kemarin usai rapat paripurna internal di DPRD Bali.

Parta mengatakan, saat ini Rumah sakit mesti sudah mempersiapan pelayanan geriatri dan layanan ramah lansia. Mengingat, pelayanan geriatri merupakan salah satu prioritas untuk lansia yang diatur dalam ranperda. “Lakukan renovasi jika memang perlu areal khusus,” harap Parta. “Prioritas lainnya, sebagai contoh lansia tidak perlu antri saat naik pesawat atau diberikan tiket khusus masuk tempat wisata, Peran serta masyarakat dan dunia usaha juga didorong dalam memberikan perlindungan kepada lansia, terutama lansia telantar,” imbuhnya.

Tak hanya sebatas itu, nantinya Perda akan mengatur kesempatan kerja, pelatihan, dan modal usaha untuk lansia, Graha Wredha dan rumah singgah, lembaga Sekaa Wredha, Kongres Lansia, posyandu dan fasilitas umum ramah lansia, sahabat lansia dan Sekaa Teruna Peduli Lansia, serta keterlibatan lansia dalam partisipasi sosial. Khusus mengenai rumah singgah, dikatakan memiliki konsep berbeda dengan panti jompo ataupun graha wredha.

“Lansia dalam panti jompo sudah pasti terlantar dan tinggal permanen disana. Sementara graha wredha adalah tempat untuk para lansia bertemu dan bercengkrama, serta mengkontribusikan pemikiran atau transfer knowledge dan bertukar pengalaman. Baik antara sesama lansia dengan lansia maupun antara lansia dengan siswa, mahasiswa, dan lainnya,” urai Ketua Komisi IV DPRD Bali ini.

Lebih lanjut Parta mengatakan, kalau rumah singgah konsepnya ada dua. Pertama, menjadi tempat singgah bagi lansia yang sedang mengikuti proses pelayanan kesehatan di Denpasar. Misalnya dari Karangasem atau Buleleng, berobat ke Denpasar, bisa nanti menginap di rumah singgah. “Mereka bisa menginap, 2 sampai 3 hari, untuk melanjutkan lagi pengobatan. Tidak harus pulang ke Buleleng atau Karangasem,” kata dia.

Bisa juga menjadi tempat menitipkan lansia, jika keluarganya akan bepergian beberapa hari. Namun, para lansia yang dititipkan di rumah singgah bersifat sementara antara 3 hari sampai seminggu. Diharapkan rumah singgah ini sudah dibangun di APBD tahun 2019. Dengan konsep, bisa menampung 10 sampai 15 orang. Nanti di rumah singgah ini bisa dijamin, makan, tidur dan kesehatannya dipantau. “Beda antara rumah singgah dan panti jompo. Kalau yang dipanti jompo sudah masuk kategori lansia terlantar,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× five = 35

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>