Din: Paradigma Pelayanan Rumah Sakit Harus Diubah

injeksi-ilustrasi_20150217_164858Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin selama ini rumah sakit hanya melayani pasien yang datang untuk berobat ketika sakit. Paradigma ini harus diubah menjadi melayani pasien, walaupun tidak sakit atau sebagai pusat health prevention.Din mengemukakan hal itu ketika meresmikan Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit Wates di Wates Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (23/7). Rumah sakit milik Muhammadiyah harus mempelopori sebagai pusat health prevention.Memang, kata Din, rumah sakit sebagai health preventive belum ada di Indonesia. Rumah sakit seperti itu sedang dikembangkan di Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Di negara tersebut, kata Din, rumah sakit dirancang untuk menjaga kesehatan sebelum pasien sakit dengan merekayasa kuliner pasien. Sehingga persoalan kesehatan dirancang secara luas melalui asupan makanan. “Rumah Sakit Muhammadiyah seharusnya dapat menerapkan paradigma baru ini. Sehingga   rumah sakit tidak hanya melayani pasien sakit yang datang untuk berobat,” tandas Din. Continue reading

Tenaga Perawat RI Masih Dicari Negara Lain

KServing hospital foodepala BNP2TKI Nusron Wahid mengingatkan Indonesia masih belum mampu memenuhi permintaan negara lain akan tenaga perawat. Itu artinya masih terbuka lowongan bagi tenaga medis ini.”Dari sekitar 23 ribu permintaan, hanya dapat dipenuhi sebanyak 15 ribuan saja. Kendala utama adalah kelemahan menguasai bahasa Inggris untuk media atau medical English.” Rumah sakit atau panti jompo di Jepang, Taiwan, Hongkong, Qatar, Arab Saudi dan lainnya sebenarnya lebih suka mendatangkan perawat Indonesia karena melayani dengan hati. Sayang penguasaan medical English mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) sangat lemah hingga permintaan tersebut tak bisa dipenuhi,” ujar dia, seperti dikutip Sabtu (4/7/2015).
Continue reading