Tips Sehat: Sindroma Geriatri

Berbagai masalah kesehatan bisa terjadi di hari tua karena kebiasaan buruk yang Anda lakukan bertahun-tahun selama masa muda, misalnya pola makan tinggi lemak dan kalori. “Paket” keluhan kesehatan yang khas muncul pada orang-orang lanjut usia disebut dengan sindrom geriatri. Apa saja masalah kesehatan yang umum terjadi di usia tua, dan bagaimana cara menanganinya agar terus menjadi lansia yang sehat. Sindrom geriatri adalah kumpulan gejala atau masalah kesehatan yang sering dialami oleh lansia akibat berbagai penurunan fungsi tubuh dan kejiwaan, sosial-ekonomi, serta perubahan drastis pada lingkungan sekitar.Contoh yang paling umum adalah penurunan nafsu makan. Di usia tua, nafsu makan memang umumnya menurun. Hilangnya nafsu makan ini bisa terjadi dipicu oleh kondisi fisik akibat proses penuaan, misalnya penurunan fungsi indera penciuman dan perasa yang membuat lansia malas makan karena makanan terasa hambar. Namun, ini bisa juga disebabkan oleh faktor psikologis, seperti tinggal sendirian atau depresi karena ditinggal orang terkasih. Beragam faktor ini dapat menyebabkan lansia kehilangan nafsu makan, dan lama-lama mengembangkan anoreksia.

Sindrom ini tidak bisa dianggap enteng, sebab bisa menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius seperti gangguan fungsi organ dan meningkatkan risiko kematian.

Sindrom geriatri ditandai oleh sejumlah masalah kesehatan, mulai dari gangguan fungsi kognitif, gangguan menjalani aktivitas sehari-hari, dan gangguan mobilitas. Ada enam kategori yang termasuk dalam sindrom geriatri, di antaranya:
Berkurangnya kemampuan gerak, yang bisa diakibatkan oleh minimnya aktivitas fisik karena penurunan fungsi fisik tubuh dan penyakit penyerta. Berkurangnya kemampuan gerak seringkali membuat para lansia lebih mudah terjatuh.

Jatuh dan patah tulang. Para lansia sering mengalami jatuh hingga patah tulang akibat gangguan keseimbangan yang disebabkan oleh gangguan penglihatan, gangguan organ keseimbangan, atau sensor motorik. Hal ini dapat meningkatkan memicu trauma fisik maupun psikososial pada lansia, misalnya hilangnya rasa percaya diri, cemas, depresi, dan rasa takut jatuh.

Mengompol (inkontinensia urin). Inkontinensia urin diartikan sebagai ketidakmampuan menahan keluarnya urin pada saat yang tidak tepat dan tidak diinginkan. Pada lansia, hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan lain, seperti dehidrasi karena pasien cenderung mengurangi minumnya karena takut mengompol, jatuh, dan patah tulang karena terpeleset oleh urin.

Demensia. Demensia meliputi penurunan daya ingat, kemunduran fungsi kognitid, perubahan perilaku, dan fungsi otak lainnya sehingga mengganggu aktivitas sehari hari. Demensia pada lansia dapat terjadi karena penuaan alami, penyakit alzheimer, stroke berulang, trauma kepala, gangguan hormon, masalah nutrisi, dan lain-lain.
Delirium. Delirium adalah suatu kebingungan akut yang ditandai dengan bicara ngelantur, gelisah, sulit mengalihkan perhatian, ketakutan, dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh gangguan metabolisme di otak akibat gangguan metabolik, infeksi, trauma kepala, atau efek samping obat yang dikonsumsi.

Isolasi atau menarik diri. Orang-orang lansia cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar, biasanya disebabkan karena kesendirian, depresi, dan/atau berkurangnya kemampuan fisik.
Penanganan berbagai masalah kesehatan pada sindrom geriatri akan tergantung dari penyebab masalahnya, seperti:

Berkurangnya kemampuan gerak (immobilisation). Penanganan gangguan kemampuan gerak pada lansia dapat dilakukan dengan terapi fisik secara perlahan menggunakan alat pendukung untuk berdiri. Dengan alat ini, pasien geriatri terbantu untuk belajar berdiri dan berjalan secara perlahan sehingga dapat menopang tubuhnya dan bergerak secara perlahan.

Jatuh dan patah tulang (instabilitas postural). Beri tahu tim dokter bila anggota keluarga Anda yang mengalami sindrom geriatri pernah terjatuh atau tergelincir karena oleng. Penanganan yang diberikan biasanya berupa olahraga dan fisioterapi yang bermanfaat untuk meningkatkan keseimbangan, cara berjalan, dan mencegah terjatuh. Lansia juga dianjurkan untuk rutin mengonsumsi kalsium dan vitamin D secara untuk menjaga kekuatan tulang. Hindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang dapat menurunkan massa tulang dan meningkatkan risiko fraktur pada lansia.

Mengompol (inkontinensia urin). Lansia akan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, dan soda yang dapat meningkatkan produksi urin. Namun, pengecualian terhadap konsumsi air putih yang tetap harus diminum secara rutin untuk mencegah dehidrasi. Inkontinensia urin juga dapat ditangani dengan konsumsi obat, stimulasi saraf, atau operasi. Akan tetapi, tetap diperlukan konsultasi dengan dokter untuk penanganan yang lebih tepat pada masing-masing lansia.

Demensia. Bila Anda menemukan anggota keluarga yang mengalami ini, maka baik pasien dan pihak keluarga perlu diberikan konseling untuk memonitor kemampuan pasien dan mempertimbangkan penggunaan alat bantu mengingat. Sebab, dukungan keluarga sangat bermanfaat untuk para penderita geriatri yang mengalami demensia.

Delirium. Penanganan delirium pada penderita geriatri dapat memanfaatkan konseling antara pasien dan keluarga. Hal ini bermanfaat untuk membantu pasien mengurangi tingkat kebingungannya, misalnya dengan mengingatkan waktu dan tempat suatu kejadian tertentu atau meningkatkan kontak dengan orang yang terlibat pada kejadian tersebut.

Isolasi atau menarik diri. Penanganan yang tepat untuk pasien geriatri yang mengisolasi dirinya adalah dengan menawarkan aktivitas sosial atau dukungan berkelompok. Dengan cara ini, para lansia dapat berperan aktif dalam kegiatan tersebut sehingga kepercayaan dirinya dalam bersosialisasi bisa meningkat dan terhindar dari rasa kesepian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 + seven =