Category Archives: Berita Manajemen Rumah Sakit

Banyak Rumah Sakit Kehabisan Oksigen, Faisal Basri: Ungovernable Government

Pelatihan Rumah Sakit – Faisal Basri menyoroti beberapa pernyataan pemerintah terkait dengan penanganan Covid-19. Salah satunya yaitu mengenai beberapa rumah sakit yang kehabisan tabung oksigen. Padahal, pemerintah mengatakan tabung oksigen cukup.

Faisal juga menyoroti pembayaran rumah sakit dan insentif tenaga kesehatan yang ditunggak oleh pemerintah.

“Ungovernable government: pemerintah bilang tabung oksigen cukup, tapi kian banyak rumah sakit teriak kehabisan tabung oksigen; pemerintah bilang uang cukup, tapi nunggak pembayaran rumah sakit dan insentif tenaga kesehatan yg bertarung nyawa demi menyelamatkan pasien covid,” kata Faisal Basri melalui cuitannya di akun @FaisalBasri, (4/7).

Dikabarkan sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 di Yogyakarta tidak hanya mengalami krisis stok oksigen namun juga mengalami kekurangan tenaga kesehatan setelah banyak yang tumbang.

Beberapa dokter dan perawat dinyatkan positif Covid-19 dan harus menjalani isolasi mandiri. Situasi tersebut membuat sejumlah rumah sakit menambah beban kerja tenaga kesehatan yang tersisa dan memberlakukan sistem buka tutup.

Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mohammad Komarudin kewalahan menangani pasien Covid yang terus melonjak. Sebanyak 30 dari 70 dokter dan 250 perawat, 75 positif Covid. di rumah sakit tersebut terinfeksi Covid.

Banyaknya dokter dan perawat yang tumbang dan harus isolasi mandiri membuat Komarudin menambah jam kerja tenaga kesehatan. Jam kerja ditambah dari delapan menjadi 16 jam untuk melayani pasien Covid di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan PKU Gamping, Sleman.

Satu dokter bekerja dalam dua shift. “Kalau keadaan memburuk, kami terjunkan dokter spesialis untuk jaga IGD,” kata Komarudin (4/7)

Adapun pasien Covid-19 yang meninggal dunia akibat habisnya pasokan oksigen di RSUP dr. Sardjito terus bertambah sejak Sabtu petang 3 Juli 2021. Pada Minggu 4 Juli 2021, sebanyak 63 pasien Covid-19 telah meninggal dunia di rumah sakit rujukan utama itu.

“Data (63 pasien Covid-19 yang meninggal dunia di RS Sardjito) itu data sejak Sabtu hingga Minggu (3-4 Juli),” kata Kepala Bagian Hukum, Organisasi, dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan (4/7)

Banu belum bisa merinci 63 pasien Covid-19 yang meninggal itu berapa banyak yang meninggal karena benar benar kehabisan oksigen dan berapa yang disebabkan karena kondisi klinis.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan Sebelumnya mengatakan pemerintah akan memastikan ketersediaan tabung gas oksigen untuk kebutuhan medis di Tanah Air.

“Terkait ketersediaan oksigen, kami sudah meminta kepada Menteri Perindustrian agar memerintahkan para produsen oksigen mengalokasikan 90 persen produksinya untuk kebutuhan medis,” kata Luhut (1/7)

Luhut meminta masing-masing provinsi membentuk satuan tugas untuk memastikan ketersediaan oksigen, alat kesehatan dan farmasi. “Satgas ini agar berkoordinasi langsung dengan Menkes jika terjadi kesulitan suplai.”

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjamin pasokan oksigen aman untuk mengatasi pandemi covid-19. Saat ini kebutuhan oksigen untuk memenuhi kebutuhan medis guna menangani pasien Covid-19 naik tajam.

“Suplai oksigen dari industri aman dengan kemampuan pasok sebesar 850 ton/hari, sementara kebutuhan oksigen untuk penanganan Covid-19 sekitar 800 ton/hari,” ujar Agus (29/6)

Jogja Disarankan Adakan Rumah Sakit Darurat

Jogja Disarankan Adakan Rumah Sakit Darurat

Pelatihan Rumah Sakit – Peningkatan kasus positif Covid-19 di Kota Jogja terus mengkhawatirkan. Pendirian rumah sakit darurat dan sejenisnya dinilai perlu untuk diadakan untuk memberikan layanan yang maksimal kepada masyarakat.

Anggota Pansus Pengawasan Penanganan Covid-19 DPRD Kota Jogja Nurcahyo Nugroho mengatakan berdasar hasil raker dengan Dinas Kesehatan dan perwakilan rumah sakit di Kota Jogja, saat ini kondisi fasilitas layanan kesehatan sudah mengkhawatirkan. Ketersediaan bed tidak lagi dapat menampung pasien Covid-19 karena jumlah penambahan bed harian yang persentasenya terus meningkat.

Oleh karena itu, ia mengusulkan pentingnya pendirian rumah sakit darurat, seperti dengan mendirikan tenda darurat untuk menampung pasien. Mengingat Kota Jogja menjadi rujukan pasien dari daerah lain.

“Kondisi sudah sangat mendesak, ruang perawatan penuh, menurut kami perlu segera diadakan semacam rumah sakit darurat dengan melibatkan berbagai komponen dan instansi lain seperti TNI, Polri serta lembaga lain. Termasuk memastikan stok oksigen tersedia, jangan sampai terjadi kelangkaan,” ujarnya (30/6).

Nurcahyo mengungkapkan salah satu penyebab menumpuknya pasien di ruang isolasi karena menunggu hasil tes PCR yang butuh waktu cukup lama yaitu antara empat hingga lima hari. Persoalan ini harus dipangkas dengan menyediakan layanan secara mobile dengan mengerahkan tenaga kesehatan yang ada. Harapannya bisa mengurangi penumpukan pasien di ruang isolasi.

“Jika diperlukan sebaiknya diadakan kendaraan yang secara khusus bisa melayani tes PCR sehingga layanan bisa diberikan mobile,” ujarnya.

Sama halnya dengan selter, menurutnya perlu ditambah dengan memanfaatkan sejumlah gedung milik pemerintah yang untuk sementara ini tidak digunakan. Menurutnya, berdasarkan data pekan lalu jumlah antrean masuk ke selter mencapai 36 orang yang diperkirakan akan terus bertambah.

“Karena isolasi di rumah itu juga berisiko menular ke anggota keluarga yang lain. Selain itu jika diisolasi di selter, pasien akan lebih mudah dipantau,” ujarnya.